Menghadapi tangisan bayi. Masih ingat kasus bayi Rasya? Bayi berusia 5 bulan yang tewas dibekap oleh pengasuhnya karena tak tahan dengan tangisannya. Bagaimana sebaiknya menghadapi tangis bayi?
foto by liputan 6.com
Menangis pada bayi adalah cara ia berkomunikasi dengan
lingkungannya. Ada beberapa anggapan
mengenai bagaimana cara menghadapi tangisan.
Ada yang berkata bahwa cepat dating dan member tanggapan akan membuat
bayi menjadi “manja dan mengekang” orangtua dengan tangisannya. Ada yang beranggapan bahwa cepat member
tanggapan adalah cara yang terbaik.
Bagaimana sebenarnya yang tepat berdasarkan penelitian terkait? Berikut pemaparannya.
Psikolog Silvia Bell, Mary Ainsworth dkk meneliti 26 pasang
ibu-anak untuk melihat seberapa jauh akibat yang ditimbulkan oleh perlakuan
ibu terhadap tangisan bayi. Jangka waktu
yang dilakukan selama 3 minggu selama anak berumur 1 tahun. Mereka menemukan bahwa bila si ibu
mengabaikan tangisan anak, maka si anak akan lebih banyak menangis
nantinya. Sedangkan ibu yang tanggap
terhadap tangisan anak, dengan segera mendatangi, mengangkat anak dan
mengucapkan kata yang lembut menghibur maka anak akan berkembang menjadi anak
yang tidak terlalu penangis. Bagaimana
ini terjadi? Hal ini berhubungan dengan
pembentukan kepercayaan pada pengasuh yang adekuat sekaligus membentuk
kepercayaan diri anak, hal ini pun seolah0oleh berkata bahwa “kau cukup
mempunyai pengaruh yang kuat bagi lingkunganmu”. Hal ini ternyata berhubungan pula dengan
proses psikososial trust mistrust (0-2 tahun) yang dirumuskan oleh Erik
Eriksson. BACA TAHAPAN PSIKOSOSIAL ERIK
ERIKSSON.
Yang penting juga bahwa ibu yang tanggap terhadap tangisan
anak juga rutin mendatangi anak mereka secara rutin meskipun ia tidak
menangis. JIka seorang bayi hanya
didatangi dan diangkat ketika menangis saja, maka besar kemungkinan bahwa cara
menangis akan lebih sering dipergunakan untuk menarik perhatian orang lain.

0 comments:
Post a Comment